• MA AL AZHAR SALE
  • Belajar | Ngaji | Berkarya

KARYA SISWA: Cerpen

KEMBALIKAN MASA ITU

Oleh Indah Norma Yanti

 

    Entah..., aku tak mampu melukiskan makna bahagia dalam hidupku. Sekejap mata, impian yang kubangun dengan cinta sirna. Waktu telah menghentikan itu semua; merebut kenangan-kenangan indah saatku bersama mereka, ayah dan ibuku. Dan, aku rindu saat-saat mereka memanjaku, memberiku harapan besar, dan juga membuka jendela impianku. Namun, kemana masa-masa itu? Hati kecilku berselisih tanya. Apakah aku tak bisa berjumpa mentari bahagia lagi? Pikirku tak menentu. 

    “Ayah, lihatlah gambar ini! Ini ayah, Denisa, dan ibu. Kita akan selalu bahagia, kan Yah!” jelasku. ”Pasti dong...! Denisa kan kesayangan ayah dan ibu” jawab ayahku. Lalu, ibuku bergumam, “Denisa yang cantik itu cinta ayah dan ibu. Kita akan selalu bahagia bersama.” Kata-kata itu melambungkan diri ini jauh ke dalam beraneka warna dunia bahagia. Tak mampu kujelaskan betapa indahnya masa-masa itu. Akupun berjanji pada diriku, aku akan menjadi orang yang pertama kali, yang akan memberi warna hidup mereka. Ya, Aku akan membahagiakan mereka sepenuh jiwa, ragaku.

    Saat itu, aku ikut berkompetisi dalam lomba puisi di sekolahku. Pastinya, ayah dan ibuku selalu berada di garis terdepan yang mendukungku. “Ibu...! Denisa takut. Nanti, kalau Denisa gagal, bagaimana Bu?” bisikku pada telinga Ibu. Ia pun menatapku, dan meyakinkanku, “Denisa sayang! Kamu itu terlahir sebagai anak yang hebat. Kamu pasti bisa!”. Ayahku pun bersorak-sorai ketika giliranku tiba. “Semangat, Denisa! Kami selalu mendukungmu!” teriak ayahku. Ya...! Semua keajaiban itu terjadi. Aku mampu melantunkan sajak demi sajak itu dengan penuh penghayatan. Akhirnya, puisi “Keluargaku” itu menjadi kado buat para pahlawanku. 

    Seperti biasa, hari Minggu adalah hari yang menyenangkan. Kita menghabiskan waktu camping bersama di halaman belakang rumah. Riuh-tawa kami mampu mengisi kepenatan dunia ini. Bahkan, ayah dan ibuku tak mau kalah, menyenandungkan nada-nada cinta untukku. “Ahhh...! Kenapa semua hari tidak hari Minggu saja” pikirku. Aku ingin selamanya mencurahkan kasih sayangku pada mereka. Hingga, kugenggam tangan ayah dan ibuku, dan berbisik pada mereka, “Ayah...Ibu...! Denisa ingin menjadi kebahagiaan dan kebanggaan bagi kalian berdua. Tetap seperti ini ya...!”.  Aku pun tumbuh menjadi pribadi yang rajin, periang, dan pemimpi besar. Aku dikenal sebagai Denisa Si Cerdas di sekolahku. Ya...! Aku adalah siswa berprestasi, dan aku memang benar-benar ingin menjadi berlian bagi kedua orang tuaku. Aku telah berjanji menjadi bahagianya mereka. Kubulatkan tekadku itu...

***

    Sayang sekali, semakin aku bertambah dewasa, semakin aku tersesat dari masa-masa itu. Saat-saat bahagia bersama, berbagi cerita dan bercanda-tawa bersama adalah sebuah untaian rindu di angan-anganku. Kini, aku mulai menginjakkan kakiku di SMA. “Sa, nanti sepulang sekolah, Ayah tidak bisa jemput. Ayah harus meeting dengan klien ayah.” jelas ayah ketika sarapan bersama. “Ibu juga ya, Nak! Ibu mungkin pulang sore karena ada arisan dengan teman-teman ibu.” sambung ibuku. “Iya, Yah...Bu...!” jawabku. Entah mengapa hati ini tidak rela mereka begitu. Ya, beberapa tahun terakhir seolah-olah tiada waktu untuk kita bersama. Mereka sibuk dengan dunianya...

    Hari ini adalah hari Minggu. Batinku menggebu-gebu. Tak sabar rasanya bernyanyi bersama di kala itu. “Ayah, Ayo kita camping di halaman!” rayuku. “Ibu, nanti masakin makanan kesukaan Denisa, ya!” sambungku. “Maaf, Sayang! Ayah dan Ibu harus datang di acara hajatan teman ayah. Jadi Minggu depan saja ya, Sa!” jawab mereka. Hatiku menagis sejadi-jadinya. Aku rindu, aku ingin masa-masa itu kekal di dalam hidupku. “Janji ya, Yah...Bu...!” lirihku. “Ya, pasti.” jawab ibu. 

    Hari-hariku kini seolah-olah suram, gelap dari cahaya kasih sayang. Bahkan rasanya, impian ini semakin pupus dan diriku mulai larut dalam kesedihan dan kekecewaan. Aku kecewa pada janji-janji suci yang mereka ingkari bahwa kita akan bahagia bersama. Akupun tergopoh-gopoh membawa diriku. Kuhiraukan saja beban rasa di batin dan raga ini. Benar saja! Aku sering sakit-sakitan, namun kupendam dalam-dalam. Aku tak ingin mereka tahu.  Hingga akhirnya, sakit itu menyelimutiku...

    “Denisa, lekas sembuh ya Nak! Ayah dan Ibu ada di sini untukmu.” lirih ayah. Aku bisikkan pada mereka, “Ayah, Ibu! Kapan kita bahagia bersama lagi. Aku sudah rindu. Jangan abaikan diriku, Yah...Bu! Aku hanya mengharapkan kasih sayangmu selalu.” Kata-kataku menyadarkan hati mereka. Aku memberanikan diri bertanya pada mereka, “Apa arti sebuah kebahagiaan dalam hidup jika kita melunturkan rasa cinta pada sesama, Yah? Jagalah kebahagiaanku, Bu. Kebahagiaan keluarga kita!”. Ayah dan ibu tersedu-sedu melinangkan air mata. Dan akhirnya, kurasakan pelukan hangat mereka. Masa itu kembali lagi, masa-masa bahagiaku dicinta dan disayang mereka...  

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
KARYA SISWA: Cerpen "Takdir Pahitku" Oleh Lu’luatul Qomariyah

TAKDIR PAHITKU Oleh Lu’luatul Qomariyah       Rangkaian kisah yang kujalani begitu mengejutkan. Skenario Tuhan yang tak dapat kutebak silih berganti mengisi r

27/02/2021 19:51 - Oleh Humas Maharsa - Dilihat 59 kali
KARYA SISWA: Cerpen "Aku dan Masalahku" Oleh Shela Kurnia Dona R.

AKU DAN MASALAHKU Oleh Shela Kurnia Dona R.       Drak…bunyi pintu kamarku hentakkan dengan keras. “Aauuhh…kenapa gak bisa ngerti aku sedikit si

27/02/2021 19:51 - Oleh Humas Maharsa - Dilihat 126 kali