• MA AL AZHAR SALE
  • Belajar | Ngaji | Berkarya

KARYA SISWA: Cerpen "Aku dan Masalahku" Oleh Shela Kurnia Dona R.

AKU DAN MASALAHKU

Oleh Shela Kurnia Dona R.

 

    Drak…bunyi pintu kamarku hentakkan dengan keras. “Aauuhh…kenapa gak bisa ngerti aku sedikit sih!” teriakku sebal. Tak terasa mataku sudah tidak dapat membendung air mataku. Yah…aku batinku menangis. Menangisi takdir yang akan membayangiku. Riuh hatiku usai mendengar kata-kata yang menyayat jiwaku itu.

    Pagi membisikiku, sinar-sinar lembut mentari dari celah-celah jendela kamar membangunkanku dari sebuah mimpi. Aku selalu berharap semalam hanya buaian bunga tidur. Aku segera bergegas membersihakan diriku. Ketika cermin besar menatapku. Aku memandang jelas, sosok jati diriku yang kaku. Aku benar-benar sadar malam itu bukan imajinasiku melainkan kenyataan yang akan aku alami. 

    “Selesai…!” gumamku setelah merapikan dasi dan siap untuk berangkat menuntut ilmu. Nampaknya telah mulai kulupakan adat sakral di pagi itu, sarapan bersama dan mengecup tangan istimewa mereka. Mungkin, kekecewaan telah menggerogoti nuraniku. Dalam perjalanan, waktu senantiasa mengetuk hatiku untuk teringat pada kejadian malam itu, malam tersuram dalam hidupku. 

    Segera aku masuk dan berjalan lemah menuju kelas. Heran! Itulah yang mungkin teman sebelahku rasakan melihat tingkahku itu. “Desi, kamu kenapa? Kamu gak apa-apa, kan.” “Tidak apa-apa” jawabku singkat. “Benar, kamu gak apa-apa”. “Iya...” jawabku dengan menampakan wajah tersenyum pada sahabatku yang cerewet itu. Ia menimpali, “Apa kamu habis menangis? Karena ayah dan ibumu. Oh…sabar ya!” ujar sahabatku Karina, sambil menepuk pundaku. Dan senyuman yang mampu kulukiskan untuknya. Begitulah sahabatku itu, ia tahu semua masalah kuhadapi. Selama ini, kuberitakan isi hatiku padanya. 

    Selama pelajaran berlangsung, aku sama sekali tidak fokus dengan apa yang disampaikan oleh guruku. Kata-kata itu masih terngiang-ngiang dalam ingatanku. “Des, kami harus melakukan ini... maaf membuatmu terluka” ujar ayah sedikit memohon. “Iya, Des! kamu harus mengerti dengan keadaan ini, ibu mohon”. “Tidak…tidak…!” jawab hatiku. Huuhhh… kuhembuskan nafasku sekuat-kuatnya ketika mengingat itu. “Desi kamu harus kuat, tidak ada yang harus ditangisi” lirihku menguatkan diriku. 

    Kini, aku berdiri dan menatap pintu rumahku dengan penuh keraguan. Namun, kakiku terhenti di depan sebuah kamar. Disana, di pintu kamar itu tergantung manis papan nama bertulis “bedroom Deri, jangan masuk tanpa seizinku!”. Lengkap dengan foto pose lucunya. Melihat itu, sedihku sedikit terkurangi. “Kakak, aku merindukanmu” lirihku. “Jika kakak disini maka ibu dan ayah tidak akan melakukan ini” gumamku.

    “Desi keputusan ayah dan ibu sudah bulat, jadi…”. “Iya Desi, jika kamu tetap tidak menyetujuinya maka itu sia-sia. Tidak ada lagi yang dapat dipertahankan dari semua ini” sambung ayah. Kata-kata itu lagi menggoyahkan hatiku. Harapan dan jiwa ini sudah runtuh berceceran. “Bukankah kalian tidak peduli padaku, yang kalian pedulikan selalu kak Deri. Tapi apa bisa kalian memikirkanku, kakak telah bahagia di sana” jelasku panjang lebar dengan air mata yang terus mengalir. 

    Keluarga ini begitu harmonis awalnya. Namun, musibah menimpa kakakku. Kecelakaan mobil merengut nyawanya. Saat itulah, ayah dan ibu selalu menyalahkan satu sama lain. Masalah-masalah kecil dibesar-besarkan. Keegoisan telah meracuni akal naluri mereka. Pertengkaran itu memuncak dan tak terelakkan lagi. Kemudian, tiba-tiba saja ayah dan ibu memperdengarkan kata itu, “CERAI” padaku. Aku bingung, dan dibuatnya terbujur kaku. Pikirku terhenti, aku tidak tahu harus berbuat apa.

    Akhirnya, waktu-waktu telah bertepi. Semuanya telah menentramkan jiwaku. Riuh ombak yang ada di depanku menghidupkanku kembali. Pertengkaran itu telah berdamai dengan hatiku. Langit dan lautan biru itu mencerahkan hatiku. “Desi, jangan jauh-jauh nanti tenggelam” teriak ayah. Begitu juga sahut ibuku “Iya, hati-hati nanti ombaknya membawamu ketengah”. Kuyakinkan mereka“Tenang saja yah, bu aku adalah perenang yang hebat”. Kami  sedang berlibur.

    Diriku kini mampu menyombongkan hati ini. Keharmonisan keluargaku telah kembali. Ayah dan ibu memang tidak jadi bercerai. Mereka tersadarkan dari kesalahan mereka. “Desi, maafkan ibu ya, Nak!” lirih ibuku. “Ayah juga minta maaf, Nak!” sambung ayah. Mendengar itu, aku hanya bisa menangis terharu, tidak menyangka akan takdir Tuhan yang begitu indah. Sekarang, aku hanya bisa mengangkat wajah dan berkata mereka adalah orang tercintaku, orang terbaik yang pernah ada di dunia; tentu saja hanya untuk Desi Mawarni Kurnia. Kubisikkan pada mereka “Tetaplah berteduh pada payung-payung kebahagiaan ini. Aku ingin hati ini damai dalam keharmonisan ini”.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
KARYA SISWA: Cerpen

KEMBALIKAN MASA ITU Oleh Indah Norma Yanti       Entah..., aku tak mampu melukiskan makna bahagia dalam hidupku. Sekejap mata, impian yang kubangun dengan cinta sir

27/02/2021 19:51 - Oleh Humas Maharsa - Dilihat 86 kali
KARYA SISWA: Cerpen "Takdir Pahitku" Oleh Lu’luatul Qomariyah

TAKDIR PAHITKU Oleh Lu’luatul Qomariyah       Rangkaian kisah yang kujalani begitu mengejutkan. Skenario Tuhan yang tak dapat kutebak silih berganti mengisi r

27/02/2021 19:51 - Oleh Humas Maharsa - Dilihat 59 kali